
Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda, namun bagi anak-anak zaman sekarang, garis finis seolah ditarik semakin jauh. Di tengah tuntutan untuk unggul dalam kompetisi global yang kian sengit, mereka tidak hanya bergelut dengan tumpukan buku, tetapi juga ekspektasi yang menjulang tinggi. Salah satu tekanan terberat kini datang dari ketahanan fisik dan mental mereka dalam menjalani ritme aktivitas yang luar biasa padat, baik di dalam ruang kelas maupun melalui berbagai les tambahan di luar sekolah. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: sejauh mana kapasitas seorang anak dapat bertahan sebelum cahaya rasa ingin tahu mereka padam oleh kelelahan?
Padatnya agenda anak zaman now, menurut Psikolog Klinis Klinik Utama Darra Medika Khamsha Noory, M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil Kak Fani, tidak lain dan tidak bukan berasal dari orang tua masing-masing yang ingin agar anaknya superior dan mampu bersaing. Anak diberikan banyak les sejak Sekolah Dasar (SD), bahkan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB). “Anak-anak sekarang dituntut, semacam dikarbit, bahwa dia harus punya kompetensi yang lebih sehingga dengan sendirinya tantangannya berat sekali,” ungkap kak Fani.
Pilah-Pilah Relaksasi
Untuk itu perlu ada keseimbangan antara berpikir yang serius dengan kegiatan yang bersifat relaksasi. Inti dari relaksasi adalah relaks atau santai, jadi biarkan anak melakukan kegiatan yang ia sukai atau yang membuatnya nyaman paling tidak 30 menit hingga 1 jam dalam sehari. Menurut Kak Fani, jenis kegiatannya bisa orang tua kompromikan terlebih dulu dengan si anak. Namun, secara umum, berikut beberapa pilihan kegiatan relaksasi yang dapat dilakukan:
- Relaksasi berupa kegiatan bermain
Bermain dengan tetangga, teman sekolah (play date), atau hewan peliharaan. Main game atau gadget juga termasuk relaksasi, namun sebaiknya hanya game atau aplikasi yang sudah diseleksi oleh orang tua dan dengan batas waktu yang jelas
- Relaksasi yang dapat dilakukan sendirian di rumah atau di kamar
Nonton TV, berolahraga, art therapy (mengekspresikan emosi melalui kegiatan menggambar, bermusik, menari), memasak, membuat kue, atau menekuni hobi lainnya. Kursus kegiatan yang sesuai dengan passion anak juga merupakan bentuk relaksasi.
- Relaksasi yang dapat dilakukan oleh anak bersama orang lain
Menghabiskan waktu dengan keluarga. Misalnya bercanda dengan adik, ngobrol dengan ibu, berkebun dengan nenek, berinteraksi dengan asisten rumah tangga.
- Relaksasi berupa kegiatan istirahat (mengistirahatkan pikiran)
Misalnya tidur siang (atau tidur sore) selama satu jam, meditasi, dan yoga. Ada juga latihan pernapasan yang mudah untuk dilakukan anak-anak usia SD. Caranya, menghirup napas dengan hidung, tahan, lalu keluarkan melalui mulut atau hidung. Saat melakukannya, kondisi anak harus fokus dengan mata terpejam atau posisi tubuh duduk atau telentang. Latihan ini cukup dilakukan selama 10 menit setiap hari, terutama menjelang waktu tidur.
- Relaksasi berupa kegiatan berlibur atau berwisata
Liburan yang ideal untuk anak SD dan SMP adalah yang diisi dengan banyak kegiatan bermain. Lokasinya bisa di mana saja, tidak perlu jauh. Namun, agar efektif, selama liburan orang tua harus ikut terlibat atau berpartisipasi. Terus berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, dan hindari kegiatan sibuk sendiri dengan gadget.
- Relaksasi berupa kegiatan brain gym
Kegiatan brain gym atau senam otak sudah diterapkan setiap hari oleh beberapa sekolah internasional sebelum murid masuk kelas. Berupa gerakan-gerakan tubuh bersilang menggunakan tangan dan kaki dengan iringan musik selama 10 hingga 15 menit.

Menurut Kak Fani, “Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui secara pasti tingkat stres anak agar kita bisa memberikan bentuk relaksasi yang paling tepat. Saya mengajak Anda untuk melakukan konsultasi di Klinik Utama Darra Medika. Dengan bantuan profesional, kita dapat menemukan cara relaksasi terbaik yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan spesifik anak Anda agar mereka terhindar dari burnout.
Kesehatan fisik anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan mentalnya. Ritme aktivitas yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat dapat memengaruhi ketahanan fisik anak secara keseluruhan. Ketika seorang anak dipaksa untuk terus belajar dalam kondisi lelah, tidak hanya performa akademisnya yang menurun, tetapi kondisi fisiknya pun akan rentan. Menurut dr. Raynaldy Budhy Prabowo (Head of Hospital Project) “Sejalan dengan pendapat psikolog kami, keseimbangan antara aktivitas serius dan relaksasi adalah kunci pertumbuhan yang sehat. Melakukan latihan seperti brain gym atau sekadar tidur siang yang cukup sangat membantu mengistirahatkan pikiran dan mengembalikan energi tubuh. Untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal secara fisik dan psikis, kami sangat menyarankan para orang tua untuk berkonsultasi dengan psikolog anak di Klinik Utama Darra Medika guna mendapatkan penanganan yang komprehensif.”
Klinik Utama Darra Medika memahami kekhawatiran orang tua di tengah kompetisi global yang kian sengit. Fenomena anak-anak yang ‘dikarbit’ dengan berbagai les tambahan sejak dini seringkali menjadi pemicu stres yang berat. Artikel ini mengingatkan kita semua akan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk relaksasi, minimal 30 menit hingga 1 jam sehari, baik melalui kegiatan bermain, hobi, maupun waktu berkualitas bersama keluarga. Relaksasi bukan sekadar waktu luang, melainkan kebutuhan dasar agar anak tetap konsentrasi dan mampu belajar dengan baik. Kami menyediakan layanan konsultasi dengan psikolog anak, termasuk Kak Fani (Khamsha Noory, M.Psi., Psikolog), untuk membantu Anda memetakan solusi terbaik bagi buah hati. Mari cegah burnout pada anak Anda dan temukan metode relaksasi yang paling efektif bersama ahli kami di Klinik Utama Darra Medika. Segera kunjungi lokasi kami di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 40, Kota Bandung, atau lakukan reservasi sekarang melalui nomor 0811-1122-423 untuk konsultasi tumbuh kembang anak yang profesional dan terpercaya.
Narasumber:
Khamsha Noory, M.Psi., Psikolog
Psikolog Klinis
Klinik Utama Darra Medika
Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 40, Kota Bandung




